Banyak sekali perubahan yang
terjadi tanpa Ku sadari, walaupun semua itu tak lepas dari penaruh lingkungan
yang membuat mereka-mereka merasakan kesadaran palsu. Sehingga tak salah jika
Sigmund Freud mengatakan bahwa perilaku manusia berada dalam dua posisi yaitu
kesadaran dan ketidaksadaran. Sikap berubah melambangkan proses sesuatu yang
dialalui oleh gerak. Perubahan yang terjadi membuat manusia berada dalam tahap
maju, namun ada perhatian besar disini bahwa manusia tak selamanya menuju pada
makna yang dapat dicerna dan diterima orang lain. Sebuah contoh perubahan
terhadap sikap individu sehingga menjadi ciri khas dirinya. Apakah sebuah sikap
ini salah? Tiada kata salah jika itu masih berada dalam pilihan pribadi, karena
sebuah pilihan haruslah ada pertanggung jawaban atau konsekwensi yang akan dia
dapati.
Sabtu, 27 September 2014
Benarkah Tuhan Jujur ?
Benarkah ada
yang tidak kita ketahui tentang manipulasi yang diperbuat oleh Tuhan? Saya kira
ada, jika kita mengkaji tentang turunnya para wahyu-wahyu yang turun dengan
latar belang atau melihat konteks masyarakat. Dimana wahyu adalah ajaran tuhan
yang sesuai dengan kondisi siapa yang akan mengenyamnya. Begitulah bagi ia yang
mengimaninya. Jika memang begitu, apakah wahyu cocok dengan realita dimana
wahyu itu tidak turun diluar konteks wahyu itu diturunkan. Contohnya, wahyu
turun di Amerika, otomatis jika mengacu pada penjelasan diatas apakah wahyu
yang turun di amerika itu cocok dengan konteks yang ada di Australia? Pastinya
butuh interpretasi yang sangat mendalam. Dan jika wahyu itu dikontekskan kepada
kondisi sosial dimana wahyu itu tidak turun disana, bukankah ini suatu
pemaksaan atas wahyu terhadap realita yang ada. Memang, Emile Durkheim pernah
menegaskan bahwa suatu masyarakat tidak akan dapat lepas dari ajaran-ajaran
yang terkandung dalam agama, walaupun suatu masyarakat itu tidak memeluk suatu
agama. Pernyataan Emile Durkheim itu riel, akan tetapi tidak semua tindakan
masyarakat itu seiring dengan agama. Lantas dimana letak ketidakjujuran tuhan
terhadap manusia?
Tipologi yang
sangat mendasar adalah suatu gambaran tentang surga. Surge telah dikatakan
indah yang tiada tandingannya. Betulkah begitu? Jika ia, pembuktian apa kiranya
yang dapat dicerna sehingga kata indah pada surge benar-benar objektif. Namun,
kenyataannya tidak ada, tidak ada yang merasakan bahwa surge itu adalah riil
keberadaannya dan indah sekali keberadaannya. Kita tahu, surga yang diinfomakan
kepada manusia dengan berstempel indah bukankah ini sebuah pancingan yang
diupayakan tuhan agar manusia mau terhdap perintah-perintah yang telah
diturunkan. Juga, yang tidak dapat dilepaskan atau antonym dari surga adalah
neraka. Diamana berita tentangnya adalah tempat yang penuh dengan siksa dan
derita. Apakah dalam otak manusia tidak pernah terpikirkan kalau ini juga upaya
tuhan agar manusia tertarik dengan ajarannya. Tipologi kedua ketidak jujuran
tuhan terhadap manusia adalah tentang kabar bagus, indah, penuh nikmat itu
dikabarkan kepada suatu masyarakat dimana notabene masyarakat itu tidak
memiliki apa-apa yang telah diberitakan tersebut.
“Siapa
yang bingung, dia yang berpikir. Siapa yang menerima tanpa bingung, dia
terkunci akalnya”
11
Agustus 2014
Manusia vs Tuhan
Dengan
keterbatasan alami manusia, kita sadar bahwa ilmu pengetahuan bukan
segala-galanya; ia hanya serpihan-serpihan kecil dan memang ilmu pengetahuan
tidak pernah lengkap. Yang bisa kita lakukan adalah merangkai serpihan yang
terserak aebagai tambahan untuk membuat mereka menjadi satu kessatuan sebagai
sebuah sistem.
Cukup
dikatakan bahwa umat manusia hingga detik ini, sebagian besarnya adalah
peribadatan terhadap berhala, mulai dari berhala primitive yang terbuat dari
tanah liat dan kayu hingga berhala modern berupa Negara, pemimpin, produksi dan
konsumsi yang dikuduskan layaknya Tuhan.
Manusia
bisa menantang Tuhan, sebagaimana Tuhan bisa menentang manusia, karena diatas
keduanya ada prinsip dan norma. Seperti akan kita lihat, semakin manusia terbuka,
akan semakin membebaskan dirinya dari keunggulan Tuhan, dan dia semakin menjadi
Tuhan. Kekuasaan mutlak Tuhan di imbangi ole ide bahwa manusia adalah saingan
tuhan yang potential.
Manusia
bisa menjadi Tuhan hanya jika dia bisa makan dari pohon pengetahuan dan buah
dari pohon kehidupan.
Ø Buah
dari pohon pengetahuan memberi
manusia kebijaksanaan Tuhan.
Ø Buah
dari pohon kehidupan bisa memberi kekekalan.
Ketika
Maimonides mendiskusikan konsep ketuhanan kepada orang yang tidak berpikiran
sederhana, dia menyimpulkan bahwa “anda harus memahami bahwa tuhan tidak
mempunyai sifat pokok dalam bentuk apapun atau dalam rasa apapun, dan penolakan
pada kemiripan menyebabkan bahwa Tuhan adalah satu.
Untuk
mengetahui apa itu Tuhan kita harus tahu dulu apa saja yang bukan Tuhan. Tuhan,
sebagai nilai dan tujuan terluhur, bukanlah manusia, Negara, lembaga dan alam.
Pengakuan “mencintai Tuhan”, “mengikuti Tuhan” dan “saya ingin menjadi seperti
Tuhan”- merupakan arti dari “tidak mencintai, mengikuti atau meniru berhala”.
Rabu, 20 Agustus 2014
Keyakinan Baru
Dewasa ini, manusia sudah merasa tak butuh lagi atas pegangan yang sulit ia jangkau. Sehingga muncullah agama-agama baru di dunia saat ini, diantaranya meliputi Materialisme dan yang lebih banyak disembah lagi adalah agama Revolusi. semua itu tak dapat ditepis dengan begitu saja. Karena semuanya berlomba-lomba dalam memenangkan apa yang mereka yakini, sehingga tiada yang akan di-ADA-kan oleh manusia terkadang menjadi mungkin dan mustahil. Maka tak salah jika di dunia ini ada salah dan benar.
Ada kata SALAH, atau kejadian yang dianggap salah oleh manusia, karena ada sesuatu yang tidak dihadiri oleh ADA. Sedangkan kalau ada kata benar atau sesuatu yang dianggap benar oleh manusia, karena kemungkinan besar 90% sesuatu itu dihadiri oleh ADA.
Ada kata SALAH, atau kejadian yang dianggap salah oleh manusia, karena ada sesuatu yang tidak dihadiri oleh ADA. Sedangkan kalau ada kata benar atau sesuatu yang dianggap benar oleh manusia, karena kemungkinan besar 90% sesuatu itu dihadiri oleh ADA.
Pare, 20 Agustus 2014
Minggu, 06 April 2014
Derasnya Air Mata Natasya Berbuah Kebahagiaan
Bagian Pertama
Siapa yang bisa
hidup tanpa cinta? adakah manusia yang tidak merasakan gelisah karena ditinggalkan
cinta? adakah manusia yang diciptakan tanpa cinta? dengan kuasa Tuhan manusia
tercipta atas kasih dan sayangnya, dan dengan begitu bahwa Tuhan menciptakan
manusia juag disertai dengan cinta.
Matahari kini mulai
menghilang sedikit demi sedikit dengan mempersilahkan malam untuk datang, dan
bagaimana kiranya jika air mata Natasya mengalir karena ditinggal pergi oleh
cinta saat menerima telefon dari ayahnya, jikalau ia tadi malam telah dilamar
oleh seorang saudagar muda bernama Samuel yang tak lain adalah tetangganya
sendiri.
Mata yang
berkaca-kaca seraya akan mengalir dengan deras saat Natasya mengingat
pembicaraan ayahnya ditelfon. “Demi ayah, dengan sangat ayah memina kepadamu
nak! Bahagiakan ayah dengan kamu menerima lamaran itu nak! Ayah kini sudah tua
dan mungkin sebentar lagi akan menjadi renta karena faktor usia. Ayah sudah tak
kuat lagi bekerja, dengan kamu menerima lamaran itu kamu akan bisa melanjutkan
kuliyahmu nak!... Percakapannya ditelfon dengan ayahnya”. Tiba-tiba Wardah
sahabat Natasya datang menghampirinya.
“Natasya kamu kenapa menangis, apa ada seseorang yang menyakitimu?.
Tanya Wardah seraya menghampiri Natasya dan memegang tangannya.
“Ah, tidak Wardah, aku tidak
apa-apa. Sahut Natasya dengan tersedu-sedu menahan sesak tangisnya.
“Jangan berbohong dalam keadaan seperti ini Natasya, aku sudah lama
bersamamu jadi aku tahu karakteristikmu walaupun hanya 80%. Ceritakanlah desak
tangisanmu, mungkin aku bisa membantunya jika mampu. Gumam Wardah dengan nada
rendah dan kedua tangannya memegang pundak Natasya.
“Mungkin harapan dan perjuanganku sudah sampai disini atau melanjutkan
dengan penuh siksa dan bahagia. Harus kepada siapa aku mengadu saat-saat hati
terlanda gundah gulana seperti ini. Dengan menunduk Natasya menceritakan
permasalahannya pada Wardah.
Malam itu sudah tak
menjadi suasana indah lagi untuk Natasya, melamun, mengingat semua itu
membuatnya terbaring dengan bantal yang basah karena aliran deras air matanya.
Mata sudah tak dapat merayunya menuju tidur lelap yang akan mengantarkannya
pada mimpi-mimpi indah.
“Mungkin kematian
adalah jalan terbaik bagi manusia yang dirundung banyak permasalahan. Ucap
Natasya dalam hatinya. Seraya Natasya sudah tak sanggup lagi untuk menjalani
hidupnya.
..............................
Jam menunjukkan setengah
dua, Natasya ingat kalau ia masih belum sholat isya’, dengan bergegas ia
kekamar mandi untuk berwudlu dan dengan mengahapus air matanya yang masih
mengalir mencoba untuk menahan.
Seusai berwudlu dia
berdiri bagai patung, namun hatinya berucap “mungkin ini adalah terakhir kali
aku melaksanakan sholat isya”. Natasya sangat berniat untuk mengakhiri hidupnya
malam itu.
Dengan khusyu’ ia
melaksanakan sholat isya’, sesudah itu ia memutar-mutar tasbihnya melantunkan
istigfar dan sholawat taisir. Astagfirullahal adlim, Allahumma sholli a’la sayyidina
muhammadin wa’ala ali sayyidina muhammad sahhil wayassir maa ta’assaro. Dengan harapan
dalam hatinya mendapatkan ampunan Allah atas perbuatan yang akan ia lakukan
sebentar lagi yaitu bunuh diri dan mendapatkan kemudahan dengan tenang dalam
mengakhiri hidupnya.
Seusai wiridan,
Natasya melihat al-Quran diatas lemari kecilnya, “mungkin ini juga terakhir dah
aku baca al-Quran”. Gumam hati Natasya. Tanpa pikir panjang ia membuka al-Quran
tersebut dan ternyata yang dibuka dan dibacanya adalah surat al-Waqi’ah. Tanpa
sadar ia membaca surat apa, dengan penuh kekhusyukan ia membacanya.
Dengan penuh
kekhusyukan Natasya membacanya juga dengan pelan-pelan agar bisa menghayati
makna dan kandungannya, ternyata jam sudah menujukkan setengah empat (03:30),
dan tiba-tiba terdengar adzan subuh. Natasya tidak sadar kalau ia sampai selama
ini ditempat sholat, membuatnya berkata “mungkin ini sholat subuh yang terakhir
kali juga dah”, bergegaslah Natasya berdiri untuk melaksanakan sholat subuh.
Seusai salam tiba-tiba ada suara orang yang menelefonnya. Dengan bergegas ia
mengahampiri dan mengambil ponselnya tanpa melihat siapa yang memanggilnya.
“Assalamualaikum Nak Natasya?
“Wa’alaikum salam, siapa? jawab Natasya.
“ini saya nak, Bapak-mu nak!.
“Bapak, ada bapak subuh-subuh telefon Natasya Bapak? Ucap Natasya
dengan kaget.
“Bapak minta maaf sebelumnya padamu nak, bapak yakin kamu pasti
merasakan sedih sekali dengan adanya berita bahwa kamu dilamar oleh saudagar
muda bernama Samuel itu. Dengan terisak-isak suara bapaknya Natasya ditelefon.
“memangnya ada apa bapaak? tanya Natasya.
“ternyata saudagar muda yang melamarmu itu adalah orang yang termasuk
komplotan pengedar sabu-sabu, dan tadi malam polisi menangkap dan membawanya,
dengan begitu bapak sudah tidak bisa menerimanya atau menolaknya untuk menjadi
tunanganmu. Dan Alhamdulillah sekali nak, tadi selesai sholat berjama’ah subuh,
bapak ditawari Pak Hermanto untuk menjaga tokonya. dimana penghasilannya bisa
diparuh, dan tokonya lumayan besar jadi bapak mohon padamu lanjutkan kuliyahmu
dan belajarlah terus yang serius. Jangan pikirkan biaya, pasti ada jalan.
Dengan nada bahagia bapaknya Natasya menyampaikan berita itu.
“Alhamdulillah yaa Allah ..... Ucap Natasya, tanpa pikir panjang ia langsung
sujud syukur.
“baiklah kalau begitu nak, sudah dulu yaa... Assalamualaikum...
“Wa’alaikum salam bapak... ucap Natasya dengan senyum-senyum.
Natasya mungkin sudah lupa dengan niatnya
ingin mengakhiri hidupnya. Padahal racun tikus sudah ia siapkan disamping
sajadahnya agar selesai sholat ia bisa langsung meminumnya. Kini hatinya sudah
berbunga-bunga yang tiada tandingannya..
...............
Oleh
: Orang Kamar
“Dua Insan yang dibalut kabut putih cinta dan kesetiaan”
Pertemuan yang tak disangka
Di sebuah kampus biru yang berbasis
kajiannya keislaman ada dua insan yang sama-sama memendam perasaan cinta suci
didalam hati terdalamnya. Sebut saja namanya Hasan Ahsan Maulana yang kerapkali
dipanggil Ahsan dan seorang wanita berkerudung yaitu Fatimah Zahrotus Sholihah
yang mendapat panggilan Fatimah. Tiada sangka tiada duga pandangan pertama
membuat diantaranya terjadi irisan pedang dimana hati keduanya terbuka dan
menyimpan kenangan yang membuat dokter cinta tak bisa mengambil isi dalam hati
tersebut,
akan tetapi dokter cinta hanya bisa menjahitnya dengan rapat, sehingga kenangan pandangan pertama tetap
abadi dalam keadaan tertutup dengan erat di dalamnya. Sebuah tragedi yang
banyak insan merasakannya.
Hari-hari yang mereka lalui hanyalah
merasakan irisan pedang itu dimana ketika mereka bertemu hanya senyum yang
menjadi sapaan hari-harinya. Ucap kata nada dalam percakapan mereka hanyalah
sebuah ucap kata yang biasa walaupun diantaranya saling merasa. Senyum merasa
tersiksa karena dibohongi oleh nada-nada ucap kata yang biasa, namun hati tetap
merasa bahwa ia tak bisa tersiksa atas tragedi realita.
Ucap kata nada-nada sapaan mereka
begitu indah terdengar, begitu dahsyat dirasa, begitu nikmat dicerna.
Fatimah : Assalamualaikum hai Ahsan … ?
Ahsan : Wa’alaikum salaam hai Fatmah.
Itulah ucap kata mereka setiap
harinya, walau terdengar biasa, namun hati tetap merasa.
Ketika
senyum yang merasa tersiksa dan dibohongi tanpa pikir panjang senyum melaporkan
kepada hati yang tak dapat dibohongi, tanpa pikir panjang pula hati segera
melapor kepada akal bagaimana sekiranya
akal segera berfikir untuk bisa mengolah hari-hari Ahsan agar menjadi
indah, dahsyat dan nikmat. Akal sudah mulai berfikir atas kebingungan yang menimpanya
sehingga ia merasa butuh sekali kepada nafsu yang berbudi baik untuk bisa
memotifasi Ahsan berucap kata yang jujur kepada Fatimah atas goresan hati
mereka yang menyimpan kenangan pertama.
Hari
senin adalah waktu masuk kuliyah dimulai, tepat jam 15:00 setelah perkuliahan
selesai Ahsan SMS kepeda
Fatimah:
Ahsan : Assalamualaikum Fatimah, dengan segala
kekurangan pada diri saya dan apa yang telah terkonsep, bolehkan saya meminta
kedatanganmu ditaman kampus tanpa seorang teman.
Fatimah : Wa’alaikum salaam Ahsan, dengan senang hati
saya bisa datang
tanpa seorang teman.
Ahsan : Syukron
katsiron yaa Fatimah.
Fatimah : Afwan
yaa Ahsan.
Ahsan
dengan seorang diri menunggu Fatimah ditaman kampus, 10 menit kemudian Fatimah datang
dan mereka saling menatap dalam keadaan bibir terbuka dua senti antara kiri dan
kanan(senyum). Entah mengapa senyum tak bisa terlepaskan toh walaupun mereka sama duduk diatas kursi. Terjadilah percakapan
diantara mereka:
Ahsan : Fatimah, saya minta maaf telah
memintamu datang
menemuiku disini.
Fatimah : Sungguh dalam hati saya tiada
satu kata-pun untuk menolak permintaanmu.
Ahsan : Jika memang yang engkau rasa
begitu, maka memang saatnya saya berkata jujur dihari ini.
Fatimah : Kata apa itu Ahsan? (dengan wajah
yang penuh senyum namun gugup).
Ahsan : Masihkah engkau mengingat
memori pertemuan pertama kita, dimana saat itu kita saling tebar senyum dengan
sapaan assalamuaikum dan jawaban wa’alaikum salaam.
Fatimah : Sungguh tiada ku lupa Ahsan.
Ahsan : Fatimah, jika waktu itu engkau
dapat membaca ucap kata hati-Ku, maka aku akan malu, dan jika engkau tak dapat
membacanya, maka aku akan tersiksa.
Fatimah : Kata apa itu Ahsan dalam hatimu?. Dengan
cukup kaget Fatimah bertanya seraya menatap wajah Ahsan.
Ahsan : Mata-ku saat pertama
memandangmu telah membuat hatiku tergores oleh pedang tatapan matamu, dan saat
itu pula aku merasa tak sanggup berbuat apa, selain terus-menerus senyum
kepadamu, walaupun itu berdosa bagiku telah membohongi senyumku dan lebih-lebih
telah membohongi-Mu.
Fatimah : Sebenarnya apa inti ucap katamu
itu Ahsan, Aku tak dapat memahaminya?
Ahsan : Jiwaku tersentuh aura keindahan
senyum-Mu, tutur kata-Mu, dan prilaku-Mu. Sehingga membuatku jatuh cinta
pada-Mu yaa Fatimah.
Fatimah : Awal-ku memandangmu, aura cinta
dan perasaan itu tak mau pergi meninggalkan-Ku, membuat-Ku gelisah, membuat-Ku
tersiksa, dan membuatku bingung dalam mencari jalan kebenaran perasaan-Ku. Dan
apa yang engkau rasa itu Ahsan adalah bagian pecahan kebingungan yang Aku
rasakan.
Ahsan : Jadi, apa engkau mengerti
tentang senyum-senyum kita?
Fatimah : Ia Ahsan, saya mengerti.
Ahsan dan Fatimah akhirnya menjalin
tali hubungan yang suci, hati ke hati sudah saling tahu. Sehingga hari-hari
mereka sudah tak ada kebohongan dibalik senyum yang tersiksa diantara mereka.
Namun saat itu pula hari-hari mereka selalu bersama, tugas kuliyah adalah tugas
mereka berdua walaupun bukan bagiannya, bagian Fatimah adalah bagiannya Ahsan
juga sebaliknya. Ketika mereka sedang bersama dan ketika itu pula suara adzan
terdengar maka mereka saling mengajak untuk melaksankan sholat ke masjid
berangkat bersama. Itulah hari-hari Ahsan dan Fatimah dalam kesehariannya.
Hari senin jam 19:00 Ahsan merasa
ingin sekali bertemu dengan Fatimah, maka pada saat itu pula Ahsan menelfon
Fatimah untuk bisa bertemu dengan senang hatu Fatimah mau atas ajakan Ahsan.
Tepat dibawah pohon yang rindang penuh dengan suasana mesra dan malu mereka
bertemu dan duduk bersama. Fatimah saya minta maaf sudah merepotkan-Mu mau atas
ajakanku, ucap Ahsan.
Tidak Ahsan, tiada kata yang membuat saya untuk menolak ajakan-Mu.
Ahsan : Fatimah, jika Aku boleh
berucap kata, Aku melihat hati-Ku dalam hati-Mu.
Fatimah : Ahsan, seberapa dalam kau
melihatnya?
Ahsan : Aku tak dapat melihatnya
Fatimah.
Fatimah : Lantas kenapa Ahsan?
Ahsan : Karena terlalu dalam,
sehingga membuatku tak dapat melihatnya.
Fatimah : Ahsan, Aku akan mengenang
kenangan malam ini. Walaupun suatu hari nanti Aku tak bersama-Mu.
Ahsan sangat bahagia mendengar nada-nada
ucap kata dari Fatimah, sehingga ia mendekat kepada Fatimah dan mencium keningnya dengan bacaan Bismillahirrohmanirrohiim (dengan nada
yang samar). Tatkala percakapan itu Fatimah meminta izin kepada Ahsan untuk pamit kembali ke
kos dan juga meminta Ahsan kembali ke kontrakannya.
Ahsan dan Fatimah kini kembali ke
tempat masing-masing, dengan ucapan assalamualaikum
dan jawaban wa’alaikum salaam dari
Fatimah tatkala mau berpisah dari pertemuan itu. Ahsan sangat bahagia bisa
memiliki Fatimah dan juga sebaliknya.
Ketika Fatimah hendak tidur ia tak
lupa menyalakan alarm agar dapat melaksanakan sholat tahajjud, tepat jam 01:30
alarm Fatimah berbunyi sehingga membuat Fatimah terbangun, namun sebelum
Fatimah hendak pergi ke kamar mendi untuk berwudlu’ ia tak lupa untuk
membangunkan Ahsan dengan menelfonnya agar juga bisa melaksanakan sholat
tahajjud bersama.
Ahsan terbangun ketika hanphonnya
berbunyi dan ketika ia lihat ternyata Fatimah yang menelfonnya, saat itu pula
Ahsan menjawab telfon Fatimah dengan ucapan wa’alaikum salaam yaa Fatimah,
karena Fatimah tak pernah lepas dari salam, entah itu bertemu dengan Ahsan dan
juga orang disekitarnya ataupun juga di telefon.
Setelah Fatimah menelfon Ahsan,
Ahsan-pun bangun dan mereka berdua melaksanakan sholat tahajjud. Se-usai sholat
tahajjud Ahsan mengambil al-Quran dan membacanya, setelah itu ia berdoa “Yaa Allah, kuatkanlah iman hamba, ampunilah
dosa hamba dan kedua orang tua hamba, limpahkanlah goresan cahayamu kepadaku
lewat ilmu-ilmu-Mu.
Fatimah-pun demikian tatkala selesai
melaksanakan sholat tahajjud ia-pun juga berdoa “Yaa Allah, kuatkan iman hamba, tambahkanlah iman hamba kepadamu,
jagalah hambamu ini dari perbuatan maksiat agar cahaya-Mu tetap mengalir
dijiwaku lewat ilmu-ilmu-Mu yang Ku pelajari.
Setelah Ahsan dan Fatimah selesai
melaksanakan ibadahnya ia-pun kembali ketempat tidurnya masing-masing, karena
besok masih ada panggilan Tuhan untuk melaksanakan sholat subuh.
Suara qori’ sudah berbunyi sebelum
adzan subuh dikumandangkan Fatimah sudah bangun dan ia tak pernah lupa untuk
mengajak Ahsan untuk beribadah, karena tempat Ahsan dan Fatimah tidak terlalu
jauh maka ia bersama-sama pergi kemasjid untuk melaksanakan sholat subuh
berjama’ah bersama.
Menuju pelaminan bahagia
Ahsan
dan Fatimah adalah mahasiswa kampus biru yang sama-sama mendaftar kuliyah pada
tahun yang sama maka lulus-pun bersama. Ketika semester mereka sudah menginjak
pada semester terakhir, maka saatnya sudah untuk menggarap skripsi, dan setelah
itu pula mereka melaksanakan wisuda bersama.
Disaat wisuda telah selesai dan
mereka berdua dinyatakan lulus dari kampus biru tak lepas niat Ahsan yang dulu
ketika menjalin hubungan saat masa-masa dimana keduanya masih menjadi
mahasiswa. Ahsan ingin melamar Fatimah untuk menjadi istri dan menjadi ibu dari
anak-anaknya.
Ketika tekat bulat Ahsan ingin
melamar Fatimah, ia tetap tidak lupa untuk ikhtiar berdoa kepada Allah dengan
melaksanakan sholat istikhoroh, karena sholat istikhoroh adalah jalan yang
tepat untuk menentukan pilihannya dalam menata hidup berumah tangga yang akan
ia hadapi kedepan. Setelah tiga hari ia melaksanakan sholat istikhoroh, dalam
tidur nyenyak Ahsan yang dalam keadaan berwudlu’ ia memimpi burung yang
berwajah Fatimah tergenggam oleh tangan kanannya.
Keesokan paginya Ahsan segera menemui
Fatimah dimana sudah ada janji diantara mereka untuk bertemu, ketika mereka
berdua sudah duduk diatas kursi khusus untuk dua orang, maka saat itu pula
Ahsan mengutarakan niatnya.
Ahsan : Fatimah, sudah lama kita terikat
oleh janji kita, sudah lama pula kita menjalin hubungan diam-diam ini, sudikah
kiranya jika aku melamarmu untuk menjadi milik-Ku selamanya.
Fatimah : Dengan hati yang penuh keikhlasan
saya bersedia dialamar-Mu yaa Ahsan.
Saat mendengar ucapan itu Ahsan
segera meminta izin untuk memberitahu kepada kedua orang tuanya. Sesampainya
dirumah Ahsan meminta ibu dan bapaknya untuk berbicara.
Ahsan : Ibu, Bapak, saya ingin meminta
restu kepada njenengan agar diperkenankan saya bisa memiliki seorang wanita
yang akan menjadi istri saya, dan meminta kepada bapak dan ibu agar melamarkan
Fatimah kepada orang tuanya.
Bapak : Naaak, bapak sangat setuju dan
akan merestui jika pilihanmu itu sudah sesuai dengan ajaran Islam, dan itu
sudah menjadi pilihan terbaikmu.
Ibu : Ibu juga setuju naak, jika
apa yang dibilang oleh bapakmu memang benar-benar begitu kenyataannya.
Mendengar ucapan kedua orang tuanya
Ahsan tanpa pikir panjang langsung melakukan sujud syukur atas kebahagiaan yang
diberikan oleh Allah kepadanya dan Ahsan langsung menciumi kaki kedua orang
tuanya.
Hari rabu tepat jam 19:00 Ahsan dan
keluarganya pergi kerumah Fatimah, sesampainya disana kedua orang tua Ahsan
mengutarakan niat silaturrahminya dan juga mengutarakan niat Ahsan untuk
melamar Fatimah dan akan menihanya.
Ayah dan ibu Fatimah : bagaimana naak, kamu siap dilamar?
Fatimah : Fatimah siap ayah, ibu, jika ibu
merestui hubungan kami (dengan menundak Fatimah berucap kata).
Hasan dan Fatimah kini merasakan
bahagia sekali karena sudah hubungan mereka direstui oleh kedua orang tua masing-masing.
Tepat hari kamis tanggal 17 Oktober 2011 mereka melaksanak akad pernikahan
dimasjid Ulul Albab Surabaya.
Setelah satu tahun setengah mereka
dikarunia dua anak kembar, mereka member nama Hasan dan Husein. Hasan adalah
kakak Husein dan Husein adalah adik Hasan. Namun setelah Hasan dan Husein berumus 15 tahun, Ahsan
dan Fatimah dikarunia anak kembar lagi akan tetapi kali ini sudah perempuan
yang mereka beri nama Husna dan Husni. Husna adalah kakak Husni dan Husni
adalah adik Husna. Keluarga Ahsan dan Fatimah sangat mawaddah warahmah.
by: Orang Kamar
Langganan:
Postingan (Atom)